SKa01: Air di Tepian Sunyi
Suara Kisah: Air di Tepian Sunyi
Kategori: Tokoh Alkitab • Perkiraan Waktu: 3 Menit
Kisah tentang seorang perempuan di Samaria yang datang ke sumur pada siang hari untuk menghindari warga, lalu berjumpa dengan TUHAN yang mengubah hidupnya.
Terik matahari menyengat kepala. Langkah kaki perempuan itu terasa berat. Di tangannya, sebuah kendi tanah liat kosong berayun pelan. Ia sengaja memilih waktu ketika warga kota beristirahat di dalam teduh rumah mereka. Ia ingin menghindari tatapan mata dan bisik-bisik tetangga di kota Sikhar.
Bagi kebanyakan orang, sumur Yakub adalah tempat biasa. Namun bagi perempuan itu, tempat ini adalah sarana pelarian. Masa lalunya kelam, penuh pilihan keliru yang membuatnya lelah menjalani hari.
Ketika ia tiba di bibir sumur, ia terkejut. Seorang Pria asing duduk di sana. Pria itu menatapnya bukan dengan cibiran, melainkan dengan ketenangan yang dalam. Pria itu berkata, "Berilah Aku minum."
Perempuan itu mengernyitkan dahi, suaranya ketus menahan curiga, "Engkau seorang Yahudi, dan aku seorang perempuan Samaria. Kenapa Engkau meminta minum kepadaku?"
Pria itu tersenyum tipis, lalu menjawab dengan kalimat yang membuat hatinya bergetar, "Jikalau engkau tahu apa yang diberikan oleh TUHAN, dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum, engkau tentu telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
Suasana mendadak sunyi. Debu jalanan seolah tak terasa lagi. Ada bagian di dalam batin perempuan itu yang lama kering, kini seperti tersiram tetes air sejuk. Percakapan terus mengalir. Bukan lagi tentang air sumur, tetapi tentang rahasia hidup yang selama ini ditutup rapat. Pria asing itu tahu semuanya, tetapi Ia tidak menghakimi.
Kesadaran menerpa jiwa perempuan itu. Rasa malu seketika runtuh berganti kelegaan yang besar. Ia tidak lagi merasa kecil.
Tanpa sadar, kendi yang ia bawa ditinggalkannya begitu saja di tepi sumur. Kakinya berbalik cepat, berlari kembali ke kota, bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk berseru kepada setiap orang yang dulu ia hindari, "Mari lihat! Ada seseorang yang memberitahu segala perbuatanku!"
Hari itu, di bawah terik matahari Samaria, hidup seorang perempuan berubah untuk selamanya. Bukan karena air sumur, tetapi karena ia telah berjumpa dengan Sang Sumber air hidup itu sendiri.