PA037-Janda Sarfat: Tepung yang Tak Habis
Janda Sarfat: Tepung yang Tak Habis
(7) Tetapi sesudah beberapa waktu hujan pun tiada turun di negeri itu, sebab sungai itu sudah kering. (8) Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia, demikian: (9) "Bersiaplah, pergilah ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan menetaplah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda di sana untuk memberi engkau makan." (10) Sesudah itu ia bersiap dan pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia memanggil perempuan itu dan berkata: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." (11) Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia memanggil dia lagi dan berkata: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." (12) Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, aku tidak mempunyai roti barang sepotong pun, kecuali hanya segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua kerat kayu api untuk masuk dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, supaya kami memakannya, kemudian kami mati." (13) Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pergilah dan buatlah seperti yang katamu, tetapi buatlah lebih dulu bagiku sebuah roti kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. (14) Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi ini." (15) Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta isi rumah perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. (16) Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.
Uraian Pelajaran:
Seorang janda miskin di Sarfat hanya mempunyai sedikit tepung dan minyak untuk makan terakhir bersama anaknya di tengah masa kelaparan[cite: 2]. Namun, ia memilih taat saat nabi Elia meminta ia mendahulukan pembuatan roti[cite: 2]. Kerelaan hati untuk berbagi di dalam kekurangan mendatangkan mukjizat pemeliharaan[cite: 2].
Setiap pengikut Kristus dipanggil untuk tidak mementingkan diri sendiri ketika menghadapi keterbatasan[cite: 2]. Allah menghendaki umat TUHAN tetap bermurah hati serta menaruh percaya penuh pada kasih sayang-Nya[cite: 2]. Pertolongan TUHAN selalu hadir pada waktu yang tepat bagi orang yang taat[cite: 2].
Perhatikan dan Jawablah:
Berdasarkan ayat 16, apakah tepung dalam tempayan perempuan itu menjadi habis setelah dipakai?
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33)[cite: 2]
Penerapan dan Komitmen:
Keterbatasan apa yang paling membuat Bp/Ibu/Sdr khawatir dalam mencukupi keperluan harian? Dan bagaimana mau tetap belajar berbagi dengan orang lain?
Terima kasih telah menyelesaikan pelajaran ini.
← Kembali ke Ruang Kelas